Di setiap kampus
atau perguruan tinggi, biasanya selalu ada koperasi mahasiswa atau kopma. Kopma
umumnya menyediakan dan menjual kebutuhan mahasiswa, sehingga jika kondisi
terdesak, mereka tak perlu keluar kampus untuk membeli kebutuhannya. Koperasi memang merupakan
sistem usaha yang terbaik. Dengan berkoperasi, mahasiswa bisa mendapatkan
barang kebutuhannya dengan harga yang relatif lebih terjangkau untuk kantung
mahasiswa. Selain itu, mahasiswa juga dapat belajar berbisnis atau
berwirausaha. Di Kopma, mereka belajar tentang manajemen dan pengelolaan uang,
pemasaran dan promosi suatu produk. Sayangnya dalam paradigma publik, kopma
hanya dipahami sebagai badan usaha yang menjalankan transaksi jual beli untuk
mencapai kesejahteraan anggotanya. Dangkalnya paradigma tersebut menjadikan
kopma kurang akrab di mata mahasiswa. Terutama di Kopma UIN, mahasiswa
non-anggota sangat jarang menikmati fasilitas yang ada disana, dan hanya
anggota-anggotanya saja yang sering berbelanja dan meramaikan Kopma UIN. Hal
ini menjadi masalah, karena Kopma UIN sendiri didirikan untuk mensejahterakan
dan menyediakan kebutuhan-kebutuhan semua mahasiswa, bukan hanya anggotanya
saja.
Kurangnya minat para mahasiswa ini disebabkan banyak hal, terutama
dikarenakan kinerja Kopma sekarang jauh menurun dibandingkan dulu. Komitmen
pengurus Kopma yang kian menurun dan ingin cepat lulus menyebabkan Kopma UIN
kurang terurus, padahal pada masa-masa terdahulu para pengurus banyak
menghabiskan waktunya di kantor Kopma. Sedangkan sekarang waktunya lebih
digunakan untuk Kuliah. Selain itu, Universitas terkesan mengesampingkan UKM
Kopma daripada UKM lain. Kurangnya pengadaan bantuan dana bagi UKM Kopma, dengan
alasan Kopma sudah memiliki dana sendiri. Tetapi Universitas justru lebih
condong pada Koperasi pegawai daripada Koperasi Mahasiswa. Bukan cuma itu,
seperti kebanyakan organisasi, Kopma UIN juga banyak mempunyai
permasalahan-permasalahan lain, baik internal maupun eksternal.
Permasalahan internal yang dihadapi Kopma UIN sekarang yaitu tingkat
ketergantungan mahasiswa terhadap Kopma sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan
mahasiswa sehari-hari maupun kebutuhan kuliah sudah menurun. Dilihat dari
begitu banyaknya tempat alternative lain yang digunakan untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari ataupun kebutuhan kuliah yang tersedia. Sehingga
mahasiswa tidak selalu menjadikan Kopma sebagai rujukan utama untuk memenuhi
kebutuhan Mahasiswa.
Sementara permasalahan eksternalnya yaitu harga barang yang yang tesedia
di Kopma UIN masih dinilai standar atau sama saja dengan tempat lain. Di Kopma
UIN, hanya anggota saja yang berhak mendapatkan potongan harga. Hal itu
menyebabkan banyak mahasiswa-mahasiswa yang non-anggota lebih memilih belanja
ditempat lain yang lebih murah. Selain itu, lokasi Kopma yang kurang strategis
juga menjadi penyebab kurangnya minat mahasiswa.
Pada awalnya letak Kopma berada di bawah Masjid UIN SUKA dan itu sangat
sentral sekali, mengingat Masjid sebagai pusat kegiatan mahasiswa, otomatis
semua mahasiswa mengetahui keberadaan Kopma. Namun saat ini meskipun dari segi
bangunan mengalami perkembangan yang sangat pesat dan barang-barang yang
tersedia lebih banyak, akan tetapi tidak semua mahasiswa mengetahui letak
keberadaan Kopma UIN karena sekarang letaknya berada di pojok kampus dan tidak
semua mahasiswa melewati Kopma. Hal tersebut merupakan kenyataan yang harus
dihadapi Kopma sekarang.
Maka dari itu diharapkan Kopma
UIN bisa lebih mengenalkan Kopma kepada mahasiswa-mahasiswa dengan melakukan
promosi lebih mendalam, tidak hanya dilingkungan Kopma tetapi juga merambah
tempat-tempat umum dikampus semisal lingkungan fakultas bahkan tiap prodi. Promosi tidak hanya yang
berkaitan dengan UKM saja, tetapi juga yang berkaitan dengan produk atau
barang-barang yang dijual di Kopma. Memasang spanduk di depan poliklinik
juga dirasa perlu agar mahasiswa-mahasiswa bisa tahu
lokasi Kopma UIN, serta memberikan
diskon-diskon bagi mahasiswa yang sering belanja maupun mahasiswa yang kurang
mampu. Selain itu juga alangkah baiknya dalam pemasaran
buku, Kopma bekerjasama dengan pihak kampus/fakultas dengan melobi tiap dosen,
buku apa saja yang sekiranya dibutuhkan dalam perkuliahan. Sehingga kopma bisa
menyediakan buku tersebut dengan harga yang lebih murah dari tempat lain dan dosen pun bisa menyarankan
untuk membeli buku tersebut di kopma. Dengan begitu mahasiswa sedikit banyak
akan muncul rasa ketertarikan bahkan memprioritaskan untuk berbelanja kebutuhannya di Kopma, terutama
buku perkuliahan.
0 Comments